Perjalanan tesis ini adalah guratan kisah antara seorang hamba dan Tuhannya kisah tentang kesungguhan, kesabaran, dan penyerahan total kepada Yang Maha Mengatur. Setiap halaman yang ditulis lahir dari pergulatan batin yang kadang melelahkan, namun selalu dibalut harapan bahwa Allah melihat setiap usaha. Ketika aturan akademik terasa seperti dinding tinggi yang menuntut ketelitian tanpa cela, hati belajar bahwa kesempurnaan bukan hanya soal kemampuan, tetapi soal ketulusan memuliakan ilmu. Seakan Allah membisikkan janji-Nya, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabūt: 69). Ayat itu menjadi cahaya yang tak pernah padam.
Nasihat dan ketelitian Bapak Direktur menjadi tali penuntun dalam perjalanan ini. Beliau mengajarkan bahwa kualitas karya ilmiah adalah cermin kualitas diri, bahwa satu huruf yang keliru dapat mengusik kehormatan sebuah penelitian. Setiap koreksi beliau bukanlah beban, tetapi curahan kasih agar ilmu ini benar-benar bersih dan patut dipertanggungjawabkan. Dalam sikap beliau, terlihat teladan orang berilmu yang menjaga adab sebelum ilmu. Allah mengingatkan, “Bertanyalah kepada ahlinya jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Naḥl: 43), dan nasihat itu membuat diri tak malu bertanya, tak lelah memperbaiki, tak gentar mengulang dari awal demi mendapatkan yang terbaik.
Namun keteguhan ini tidak mungkin berdiri tanpa pondasi cinta dari keluarga. Doa kelurga yang lembut dan tak pernah berhenti, seperti angin yang menyejukkan hati di tengah badai revisi. Kesabaran Suami yang diam-diam menguatkan langkah. Pasangan yang selalu memahami, menenangkan, dan memeluk lelah tanpa banyak kata. Anak-anak yang menatap penuh harapan, seakan menjadi alasan untuk terus berjuang. Sahabat-sahabat yang hadir dengan doa, yang mendengar keluh dengan hati, yang mengingatkan bahwa perjuangan ini tidak dilalui sendirian. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti satu bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan benar, dukungan mereka menjadi pilar yang menegakkan kembali diri ini saat hampir tumbang.
Di tengah tumpukan catatan, coretan revisi, dan malam-malam panjang yang ditemani secangkir keheningan, hamba menyadari betapa kecil dan lemahnya diri ini. Ada saat-saat ketika tangan gemetar, ketika pikiran berputar tanpa menemukan jalan keluar, ketika air mata jatuh bukan karena sedih, tetapi karena merasa tidak mampu. Namun pada saat itulah Allah paling dekat. Hamba bersujud lebih lama, memohon lebih dalam, berserah lebih utuh. Firman-Nya menjadi obat yang menyembuhkan luka batin, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarḥ: 5–6). Di balik setiap kesulitan yang datang bertubi-tubi, Allah sisipkan kemudahan yang tak terduga.
Dan ketika perjalanan ini mencapai ujungnya, hati tenggelam dalam syukur yang tidak mampu diungkapkan oleh kata-kata. Bukan semata-mata karena tesis ini terselesaikan, tetapi karena Allah memperkenankan diri ini merasakan manisnya perjuangan, pahitnya kelelahan, indahnya kesabaran, dan hangatnya pertolongan-Nya. Segala usaha ini kembali kepada satu niat, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Semoga setiap huruf yang ditulis menjadi saksi amal baik, setiap upaya menjadi sebab turunnya keberkahan, dan setiap peluh menjadi pemberat timbangan kebaikan di hadapan Allah.
Ya Allah, Tuhan yang membukakan segala pintu ilmu,
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
